Desa Dasun

Kec. Lasem, Kab. Rembang
Prov. Jawa Tengah

Loading

Info
Laman Resmi Pemerintah Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Sekretariat: Balai Desa Dasun, RT.01,RW.01, Dasun, Lasem, Kode Pos: 59271 | Dasun Maju | Desa Pemajuan Kebudayaan Kemendibud | Desa Anti Korupsi KPK RI

Berita Desa

Rembang, Jawa Tengah — Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, akan menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, seni, pengetahuan lokal, dan isu keberlanjutan melalui Festival Garam “Memetri Kawitane Uyah” pada 13-18 Oktober 2026.

Digagas oleh Komunitas Pusaka Dasun, festival ini merupakan bagian dari program Festival Garam sebagai Diseminasi Praktik Kebudayaan dalam Upaya Pemajuan Kebudayaan di Desa Dasun. Kegiatan dirancang untuk menghidupkan kembali, mendokumentasikan, serta menyebarluaskan pengetahuan tradisional masyarakat dalam memproduksi garam rakyat sebagai bagian dari warisan budaya tak benda.

Bagi masyarakat Desa Dasun, garam bukan sekadar komoditas. Praktik produksi garam telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian dari pengetahuan lokal yang berkaitan erat dengan pengelolaan lahan tambak, air, cuaca, lingkungan, serta kehidupan sosial masyarakat pesisir. Desa Dasun sendiri memiliki sejarah panjang sebagai kawasan pesisir dan pernah menjadi lokasi penting galangan kapal dan pelabuhan besar. Atas potensi budaya yang dijaga dan dikembangkan masyarakatnya, Desa Dasun dianugerahi penghargaan sebagai Desa Budaya Tahun 2024 oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Namun, keberlangsungan tradisi garam rakyat menghadapi berbagai tantangan. Regenerasi petani garam semakin berkurang karena profesi tersebut dinilai kurang menjanjikan bagi generasi muda. Di sisi lain, pencemaran lingkungan, perubahan dan anomali cuaca, ketidakstabilan harga, serta tekanan pasar turut memengaruhi keberlanjutan produksi garam rakyat di Dasun.

Melalui festival ini, Komunitas Pusaka Dasun ingin memperluas cara pandang terhadap garam rakyat. Produksi garam tidak hanya dipahami sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai praktik kebudayaan yang merekam hubungan manusia dengan alam, pengetahuan ekologis, teknologi lokal, serta identitas masyarakat pesisir.

Festival Garam “Memetri Kawitane Uyah” tidak berdiri sebagai acara seremonial semata. Festival dirancang sebagai ruang edukasi publik, dialog lintas disiplin, transfer pengetahuan, serta pertemuan antara masyarakat, petani garam, seniman, peneliti, generasi muda, pelaku budaya, pemerintah, dan masyarakat umum.

Rangkaian kegiatan Festival Garam meliputi Produksi dan Pameran Lukisan Garam, Residensi Seni, Pembuatan Film Dokumenter, Lomba Menggambar dan Mewarnai, Bedah Buku “Pranata Banyu Desa Dasun”, Pembukaan Pameran dan Perform Art, Sarasehan Lukisan Garam, Gowes Heritage Dasun, Dialog Garam Rakyat, serta Lomba Konten Kreatif.

Melalui rangkaian tersebut, festival diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan tradisional dengan gagasan dan praktik baru. Dokumentasi melalui film, catatan residensi, workshop, serta karya seni juga menjadi bagian penting untuk menjaga pengetahuan yang selama ini hidup dalam praktik dan tradisi masyarakat.

“Lewat festival garam ini, kami mengajak semua pihak untuk merawat warisan pengetahuan tentang garam, sambil serius mendengarkan dan membedah persoalan yang dihadapi para petambak garam saat ini.” Angga Hermansah, Ketua Komunitas Pusaka Dasun.

Seni sebagai Cara Merawat Ingatan, Lukisan Garam (Meneruskan) Nasirun

Salah satu program utama festival adalah Residensi Seni Lukisan Garam yang berlangsung pada 13–16 Oktober 2026. Program ini mengundang perupa dan pegiat budaya untuk tinggal, belajar, dan bekerja bersama petani garam Desa Dasun membuat lukisan.

Dalam residensi tersebut, peserta akan mempelajari sejarah, tradisi, ekologi, serta kearifan lokal pengelolaan tambak garam di Desa Dasun, Lasem, Rembang. Garam digunakan bukan hanya sebagai material, tetapi sebagai medium ekspresi; sementara tambak menjadi ruang berkarya dan petani garam menjadi mitra sekaligus sumber pengetahuan.

Program ini juga memiliki makna khusus melalui “Lukisan Garam (Meneruskan) Nasirun”.

Sebelumnya, petani garam Desa Dasun telah memiliki gagasan untuk berkolaborasi dengan perupa Nasirun dalam membuat sebuah lukisan garam. Gagasan tersebut bahkan telah dituangkan Nasirun dalam sebuah sketsa pada 25 Juli 2026. Setelah Nasirun berpulang pada 1 Agustus 2026, para petani garam Dasun memilih untuk meneruskan gagasan tersebut bersama para perupa dan pegiat budaya peserta residensi.

Karya tersebut diproyeksikan menjadi Lukisan Garam Terbesar di Dunia, melebihi lukisan Bancaan Rupa tahun 2023. Lebih dari sekadar karya monumental, lukisan ini diharapkan menjadi medium untuk merawat ingatan, meneruskan gagasan, dan menyuarakan kehidupan masyarakat garam Dasun.

Sebagai kurator Lukisan Garam, Eggy Yunaedi melihat garam bukan semata komoditas, melainkan medium yang menyimpan jejak sejarah, pengetahuan, dan kehidupan masyarakat pesisir untuk diterjemahkan melalui bahasa seni.

“Garam bukan barang baru, berabad-abad sudah mengkristal di bentangan tambak sebelum batas negara digariskan. Garam adalah arsip dan pamflet paling jujur yang menunggu untuk digubah menjadi citra yang bicara.” Eggy Yunaedi Kurator Lukisan Garam.

Merawat Garam, Merawat Kebudayaan

Komunitas Pusaka Dasun memandang keberlanjutan garam rakyat sebagai bagian dari keberlanjutan kebudayaan masyarakat pesisir. Karena itu, festival diharapkan tidak berhenti pada perayaan, tetapi turut membangun kesadaran publik, memperkuat kapasitas komunitas lokal, serta membuka ruang dialog mengenai masa depan garam rakyat.

Festival ini juga menjadi bagian dari upaya mengimplementasikan semangat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, khususnya melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan unsur kebudayaan lokal.

Dengan menggabungkan seni, pengetahuan lokal, dokumentasi, pendidikan publik, dan partisipasi masyarakat, Festival Garam “Memetri Kawitane Uyah” diharapkan dapat memperkuat posisi Desa Dasun sebagai ruang budaya garam rakyat sekaligus menjadi contoh bagaimana kebudayaan dapat menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan ekologis dan ekonomi masyarakat pesisir.

Tentang Komunitas Pusaka Dasun

Komunitas Pusaka Dasun merupakan komunitas yang berdiri sejak 2016 bergerak dalam pelestarian dan pemajuan kebudayaan di Desa Dasun, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Berbagai inisiatif yang telah dilakukan antara lain Festival Bandeng Mrico (2021); Grebeg Tumpeng Pesisiran (2023); Bancaan Rupa (Pembuatan Lukisan Garam terbesar di dunia tahun 2023), Pameran Lukisan Garam Pranata Banyu (2024), serta pameran Garam Arthe Fact (2024) sebagai bagian dari upaya mengaktivasi ruang budaya dan menyebarluaskan pengetahuan lokal masyarakat Dasun. Kemudian Komunitas Pusaka Dasun juga terlibat dalam penerbitan tiga buku tentang Desa Dasun: (1) Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya 2020; Pemajuan Kebudayaan Desa Dasun (2021); dan Pranata Banyu Desa Dasun (2026).

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, menyampaikan apresiasi terhadap kiprah Komunitas Pusaka Dasun yang selama satu dekade telah ikut memberikan warna bagi perkembangan Desa Dasun. Komunitas Pusaka Dasun sendiri dikukuhkan oleh Pemerintah Desa Dasun pada tahun 2016, sehingga penyelenggaraan Festival Garam pada 2026 menjadi momentum sepuluh tahun perjalanan komunitas tersebut dalam berkarya dan berkontribusi bagi desa.

“Saya sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Komunitas Pusaka Dasun selama ini. Sepuluh tahun lalu, pada 2016, komunitas ini saya kukuhkan sebagai bagian dari upaya bersama untuk mengembangkan potensi dan kebudayaan Desa Dasun. Selama perjalanan itu, Komunitas Pusaka Dasun telah memberikan warna bagi desa melalui berbagai kegiatan, prestasi, serta upaya pelestarian budaya dan pengembangan ilmu pengetahuan.” Sujarwo Kepala Desa Dasun.

Menurut Sujarwo, keberadaan komunitas yang tumbuh dari masyarakat menjadi penting karena pelestarian kebudayaan tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi membutuhkan proses yang terus-menerus, dokumentasi, serta keterlibatan generasi muda.

Kontak Media / Informasi:

Komunitas Pusaka Dasun
Desa Dasun RT 01 RW 01, Lasem, Rembang, Jawa Tengah 59271
Telp. 0895412499678, Instagram @pusakadasun @garamfest
Email: [email protected]

Beri Komentar

Layanan
Mandiri

Hubungi Pemerintah Desa untuk mendapatkan PIN

Pemerintah Desa

Kepala Desa

SUJARWO

PEMDES DASUN

EXSAN ALI SETYONUGROHO, S.Pd

PEMDES DASUN

SUYOTO

PEMDES DASUN

AHMAD MAULANA, S.Ag

PEMDES DASUN

ONY VENA MULYANA

PEMDES DASUN

ACHIRUDIN BAYU CHRISTIYANTO, S.Pd

PEMDES DASUN

JULAEKAH, SE

PEMDES DASUN
Statistik Pengunjung
Hari ini : 212
Kemarin : 686
Total Pengunjung : 1.195.338
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.217.6
Browser : Mozilla 5.0
Statistik Pengunjung
Hari ini : 212
Kemarin : 686
Total Pengunjung : 1.195.338
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.217.6
Browser : Mozilla 5.0

Kabar Rembang

Pemerintah Desa

SUJARWO

Kepala Desa


PEMDES DASUN

EXSAN ALI SETYONUGROHO, S.Pd


PEMDES DASUN

SUYOTO


PEMDES DASUN

AHMAD MAULANA, S.Ag


PEMDES DASUN

ONY VENA MULYANA


PEMDES DASUN

ACHIRUDIN BAYU CHRISTIYANTO, S.Pd


PEMDES DASUN

JULAEKAH, SE


PEMDES DASUN