Desa Dasun

Kec. Lasem, Kab. Rembang
Prov. Jawa Tengah

Loading

Info
Laman Resmi Pemerintah Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Sekretariat: Balai Desa Dasun, RT.01,RW.01, Dasun, Lasem, Kode Pos: 59271 | Dasun Maju | Desa Pemajuan Kebudayaan Kemendibud | Desa Anti Korupsi KPK RI

Berita Desa

dasun-rembang.desa.id- DASUN, REMBANG Sepuluh seniman dari berbagai daerah di Indonesia terpilih mengikuti program residensi seni Festival Garam Dasun 2026. Mereka akan berkolaborasi dengan sepuluh seniman-petani garam Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, untuk membuat karya yang diproyeksikan menjadi lukisan garam terbesar di dunia.

Kesepuluh seniman tersebut terpilih melalui proses open call yang dibuka panitia pada 9–25 September 2026. Puluhan portofolio dari berbagai daerah masuk dan kemudian diseleksi oleh kurator bersama panitia Festival Garam Dasun 2026.

Para seniman terpilih memiliki latar belakang yang beragam. Mereka terdiri atas seniman yang aktif dalam komunitas akar rumput, seniman akademisi dengan pengalaman riset, hingga seniman yang memiliki pengalaman mengikuti berbagai kegiatan seni di tingkat nasional dan internasional.

Keberagaman latar belakang tersebut diharapkan dapat menghadirkan perspektif baru dalam melihat garam, kehidupan petani garam, kebudayaan masyarakat pesisir, serta pengetahuan yang tumbuh dari ekosistem tambak garam.

Tinggal di Rumah Warga dan Belajar dari Petani Garam

Sepuluh seniman akan mengikuti residensi seni di Desa Dasun pada 14–17 Oktober 2026. Selama empat hari, mereka tidak hanya berkegiatan di ruang seni, tetapi juga tinggal di rumah-rumah warga.

Melalui residensi tersebut, para seniman akan belajar langsung dari para petani garam mengenai berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan garam. Mulai dari sejarah garam di Lasem, proses produksi garam dari tambak hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, hingga dinamika kehidupan masyarakat pesisir.

Kurator Festival Garam Dasun, Eggy Yunaedi, mengatakan residensi menjadi bagian penting dalam upaya mempertemukan pengetahuan petani dengan dunia seni.

“Selain ingin memperluas perspektif lewat para seniman yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang, kolaborasi ini merupakan bagian dari strategi diseminasi pengetahuan. Kami ingin pengetahuan tentang garam menyebar, hidup, ditubuhkan, dan diterjemahkan kembali melalui bahasa seni oleh para seniman bersama warga,” ujar Eggy.

Salah satu peserta residensi, Tri Wahyudi dari Yogyakarta, menyambut baik kesempatan tersebut. Ia mengaku bersyukur dapat terlibat dalam proses kreatif bersama masyarakat petani garam.

“Saya bersyukur dapat bersama-sama menuangkan kreativitas yang baru, dan bangga bisa terlibat dalam festival bersama masyarakat petani garam yang menjadi bagian dari kearifan lokal budaya Nusantara,” katanya.

Peserta lainnya, Kharisma Widya Kartika dari Rembang, berharap residensi tersebut dapat membawanya mengenal lebih dekat garam Dasun sekaligus mengeksplorasi proses berkesenian secara kolektif.

Meneruskan Gagasan Maestro Nasirun

Puncak kegiatan residensi akan diwujudkan melalui kolaborasi antara sepuluh seniman peserta residensi dan sepuluh seniman-petani garam Dasun. Karya tersebut diberi tajuk “Lukisan Garam (meneruskan) Nasirun”.

Gagasan tersebut berawal dari pertemuan maestro seni rupa Indonesia Nasirun dengan para seniman-petani garam Dasun yang didampingi Kurator Eggy Yunaedi.

Dalam pertemuan tersebut, muncul gagasan untuk membuat karya bersama yang mengangkat garam sebagai medium sekaligus sumber cerita. Nasirun kemudian berpulang pada 1 Agustus 2026.

Kepergian Nasirun tidak menghentikan gagasan tersebut. Festival Garam Dasun justru menjadikan gagasan itu sebagai sesuatu yang akan diteruskan secara kolektif oleh para seniman dan petani garam sebagai bentuk penghormatan terhadap sang maestro.

Seniman-petani garam Dasun, Mulyono, mengatakan keterlibatan petani dalam proses berkesenian memberikan pengalaman yang berbeda. Menurutnya, garam selama ini tidak terpisahkan dari kehidupan petani.

“Selama ini garam adalah bagian dari keseharian kami sebagai petani, dari tambak hingga menjadi sumber penghidupan. Melalui lukisan dan kolaborasi dengan para seniman dari berbagai daerah, kami ingin garam tidak hanya dilihat sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan, pengetahuan, dan cerita masyarakat petani garam,” ujar Mulyono.

Hal senada disampaikan Arief Yulianto, seniman-petani garam yang sebelumnya juga terlibat dalam kolaborasi lukisan garam. Menurutnya, perjumpaan antara petani dan seniman membuka ruang baru untuk memperkenalkan pengetahuan tentang garam kepada masyarakat luas.

“Kami berharap kolaborasi ini membuat seni dan pengetahuan tentang garam semakin dikenal luas. Apa yang kami lakukan di tambak selama ini mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dipertemukan dengan dunia seni, ternyata memiliki banyak cerita dan pengetahuan yang bisa dibagikan kepada masyarakat,” kata Arief.

Karya kolaboratif tersebut diproyeksikan menjadi lukisan garam terbesar di dunia, melampaui karya Bancaan Rupa yang dibuat pada 2023 dan telah tercatat dalam Rekor Dunia MURI.

Sepuluh Seniman dari Berbagai Daerah

Sepuluh seniman yang terpilih dalam program residensi tersebut adalah Tri Wahyudi dari Yogyakarta, Putut Pasopati dari Pati, Prabowo Setyadi dari Jatiwangi, Budi Karya dari Jepara, Aqilur Rachman Abdul Charizs dari Jakarta, Dwiki Naufal Ilham dari Lasem, Sonia Prabowo dari Yogyakarta, Munna Laili Hidayana dari Kediri, Kharisma Widya Kartika dari Rembang, dan Andita Purnamasari dari Yogyakarta.

Mereka akan berkolaborasi dengan sepuluh seniman-petani garam Dasun, yakni Tri Murti, Mulyono, Arif Yulianto, M. Sholeh, Suparlan, Mariyadi, Suparno, Agung Wibowo, Anas Kristiawan, dan Rohmadi.

Proses kreatif tersebut juga akan didampingi tim teknis yang terdiri atas Sofyan Deer, Yoyok van Badem, De Tejo, Ariz Lukman, dan Eddie Suryono.

Ketua Panitia Festival Garam Dasun 2026, Angga Hermansah, mengatakan karya Lukisan Garam (meneruskan) Nasirun tidak semata-mata ditujukan sebagai karya seni berskala besar.

Menurutnya, karya tersebut memiliki dua sisi yang saling melengkapi, yakni ungkapan syukur petani sekaligus ruang untuk menyampaikan realitas kehidupan mereka kepada publik.

“Lukisan garam ini adalah ungkapan syukur para petani garam atas apa yang telah mereka jalani dan warisi dari kehidupan di tambak. Namun pada saat yang sama, karya ini juga menjadi cara mereka menyuarakan realitas yang mereka hadapi kepada publik. Karena itu, kami melihat karya ini bukan hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan antara pengetahuan, pengalaman, rasa syukur, dan suara petani garam,” kata Angga.

Festival Garam Dasun 2026 akan mempertemukan seni, pengetahuan, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat petani garam. Publik dan pecinta seni dapat mengikuti rangkaian kegiatan sekaligus menyaksikan proses lahirnya karya kolaboratif yang mempertemukan seniman dari berbagai daerah dengan masyarakat petani garam Desa Dasun, Lasem, Rembang. (Exsan Ali Setyonugroho)

Beri Komentar

Layanan
Mandiri

Hubungi Pemerintah Desa untuk mendapatkan PIN

Pemerintah Desa

Kepala Desa

SUJARWO

PEMDES DASUN

EXSAN ALI SETYONUGROHO, S.Pd

PEMDES DASUN

SUYOTO

PEMDES DASUN

AHMAD MAULANA, S.Ag

PEMDES DASUN

ONY VENA MULYANA

PEMDES DASUN

ACHIRUDIN BAYU CHRISTIYANTO, S.Pd

PEMDES DASUN

JULAEKAH, SE

PEMDES DASUN
Statistik Pengunjung
Hari ini : 298
Kemarin : 167
Total Pengunjung : 1.205.901
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.216.253
Browser : Mozilla 5.0
Statistik Pengunjung
Hari ini : 298
Kemarin : 167
Total Pengunjung : 1.205.901
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.216.253
Browser : Mozilla 5.0

Kabar Rembang

Pemerintah Desa

SUJARWO

Kepala Desa


PEMDES DASUN

EXSAN ALI SETYONUGROHO, S.Pd


PEMDES DASUN

SUYOTO


PEMDES DASUN

AHMAD MAULANA, S.Ag


PEMDES DASUN

ONY VENA MULYANA


PEMDES DASUN

ACHIRUDIN BAYU CHRISTIYANTO, S.Pd


PEMDES DASUN

JULAEKAH, SE


PEMDES DASUN