Desa Dasun

Kec. Lasem, Kab. Rembang
Prov. Jawa Tengah

Loading

Info
Laman Resmi Pemerintah Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Sekretariat: Balai Desa Dasun, RT.01,RW.01, Dasun, Lasem, Kode Pos: 59271 | Dasun Maju | Desa Pemajuan Kebudayaan Kemendibud | Desa Anti Korupsi KPK RI

Berita Desa

dasun-rembang.desa.id- Dasun, sebuah desa pesisir di ujung utara Lasem, adalah tanah tempat saya lahir dan dibesarkan. Masa kecil saya diwarnai oleh langkah-langkah menuju sungai, mengikuti orangtua mengecek perahu atau memperbaiki jaring. Kadang di hari Minggu, saya diajak Bapak melaut, menengok jaring yang dipasang semalam. Saat itu, kepercayaan diri saya membara seakan yakin saya adalah pelaut sejati, persis seperti dalam lagu anak-anak yang sering kami nyanyikan.

Namun keyakinan itu seketika tersapu ombak begitu perahu melewati muara, menghadap gelapnya laut lepas dan ombak yang mengguncang. Dengan ketakutan membelit, saya disuruh bapak bersembunyi di bawah geladak, berpelukan dengan ketakutan hingga tak sadar tertidur. Pengalaman itu berulang, sampai akhirnya bapak memutuskan untuk tidak lagi mengajak saya. “Belum waktunya,” katanya. Laut yang ganas bukan teman untuk anak sebaya saya.

Beberapa tahun kemudian, bapak menjual perahunya. Hasil tangkapan menipis, dan perhatiannya teralihkan pada pekerjaan lain. Tapi kami tidak benar-benar berpisah dengan air. Bapak masih aktif menebar jaring di muara, menangkap belanak, bandeng, sumbal, manyung. Di sanalah sekolah sesungguhnya dimulai.

Dia mengajarkan cara melepas ikan dari jaring dengan mudah. Lalu, percaya penuh, dia membiarkan saya melakukannya sendiri saat air surut, sambil dia menunggu dengan wadah di tangan. Pelan-pelan, saya diajari menebar jaring, memegang pangkal dan ujungnya, lalu menggulungnya dengan rapi. Menginjak SMP, saya sudah boleh mengecek jaring sendiri. Di muara itu, tanpa saya sadari, saya menyerap pengetahuan tentang musim ikan, jalur migrasi mereka, dan ritme pasang-surut air laut. Seolah-olah air dan kebiasaan yang berulang itulah yang mengajarkan saya langsung.

Hingga suatu malam, baratan datang. Angin kencang dari barat laut membawa ombak besar, menjadikan jaring kami seutas tali kusut yang tak berbentuk. Itulah akhir dari rutinitas saya di muara. Tapi bukan akhir petualangan saya dengan air. Masih ada gogo, ngirup, ngleleg, nyuloh, nyongkro, dan berburu tiram di sela waktu sekolah. Setiap aktivitas itu jika saya ceritakan bisa menjadi bab tersendiri.

Liburan panjang setelah lulus SMA membawa saya kembali ke laut. Diajak Pakdhe, seorang nelayan ulung, awalnya saya menolak. Citra nelayan yang kurang menjanjikan mengaburkan kenangan manis masa kecil. Tapi iming-iming uang jajan akhirnya menggoyahkan hati. Kembali ke laut dengan menangkap rajungan, tubuh yang sudah kuat ternyata masih kalah dengan mual dan pusing di atas gelombang. Namun dari sanalah saya belajar lagi: mengemudikan perahu, menarik jaring di tengah ombak, membaca angin dan musim—kini sebagai nelayan rebon, nelayan teri, sesuai dengan bahasa yang telah ditetapkan oleh alam itu sendiri.

Kesempatan terakhir belajar datang di semester enam kuliah, ketika bapak meminta bantuannya di tambak garam. Di bawah terik matahari yang menyengat, saya belajar ritual pembuatan garam tradisional: menaikkan air dengan eboran, memadatkan petak dengan slender, mengangkut hasil panen dengan gerobak sorong. Tantangan terberat adalah menguras petak tanpa meninggalkan jejak kaki dalam, sebuah teknik “meringankan tubuh” yang sampai hari ini masih belum benar-benar saya kuasai. Betapa geli bila mengingat jejak kaki saya di petak garam waktu itu lebih mirip jejak kuda berlarian di lumpur.

Itulah penggalan panjang sekolah kehidupan saya. Dari rangkaian pengalaman itu saya memahami bahwa pengetahuan dapat ditemui dimana-mana. Pengetahuan tersebut, dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit, telah mengatur tata kelola hidup masyarakat pesisir seperti kami, lebih khusus lagi bagi masyarakat desa yang tetap bertahan melestarikan dan mempraktikkannya. Desa adalah akar budaya bangsa yang menyimpan khazanah pengetahuan tradisional tak ternilai.

Sayangnya, seiring bergulirnya waktu, pengetahuan itu kini memudar, tergerus kemudahan yang dibawa pengetahuan dan teknologi modern. Ironisnya, pengetahuan modern sering kali melemahkan ketahanan kita dalam menghadapi alam. Ironis pengetahuan dan teknologi modern dan kesadaran untuk mengolah warisan local wisdom itu membuat saya berpikir pengetahuan tradisional bukan sekadar alternatif, melainkan fondasi.

Salah satu inti pengetahuan itu adalah perhitungan musim (mangsa). Bagi nelayan dan petambak di Dasun, musim adalah penentu hidup: kapan melaut, alat tangkap apa yang digunakan, kapan memulai produksi garam atau budidaya bandeng.

Kumpulan pengetahuan inilah yang oleh leluhur kami dirumuskan menjadi suatu sistem sosial, sebuah pranata atau tata kelola yang mengatur hubungan kami dengan banyu (air). Maka, lahirlah istilah pranata banyu: pengetahuan yang meliputi pergantian musim, perubahan pergerakan air, tata kelola tambak, hingga tanda-tanda alam yang mempengaruhi tangkapan nelayan. Diolah oleh kreativitas berpikir nenek-moyang dan para penerusnya, memori kolektif yang hidup dalam pikiran dan tindakan tersebut menjadi pedoman dalam aktivitas keseharian kami.

Buku ini adalah upaya untuk merekam memori kolektif dan praktik kebudayaan itu. Disajikan sebagai sebuah tulisan yang menghadirkan percakapan langsung dengan para pelaku, dimana informan dipilih berdasarkan rekomendasi masyarakat dan pengamatan mendalam, buku ini ingin mengembalikan kepopuleran pengetahuan tradisional kemaritiman yang semakin memudar—padahal, di sanalah letak kekuatan kita sejak zaman Majapahit. Mengembalikan kejayaan maritim bisa dimulai dari hal kecil: dengan menerjemahkan, mempraktikkan, dan meneruskan pengetahuan ini kepada generasi berikutnya.

Proses panjang penulisan buku ini tidak mungkin berjalan tanpa dukungan dari banyak pihak. Terima kasih tak terhingga kepada Pemerintah Desa Dasun yang selalu mendukung penuh proses penulisan buku ini. Kepada keluarga dan teman-teman seperjuangan, terima kasih atas semangat dan doanya.

Istri saya tercinta, Nur’a Febri Hariani, adalah sandaran kesabaran dan sumber kekuatan. Juga kepada Anindya Bestari, putri kami, yang menjadi penghibur lelah di setiap halaman yang diselesaikan.

Tak lupa, saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para narasumber dan pihak yang terlibat langsung: Sidiq, Sutono, Kuyono, Sutrisno, Munanto, Sujarwo, Exsan Ali Setyonugroho, Achmad Sholeh S, Handri Arta, Ony Vena Mulyana, Suyoto, Ahmad Maulana, Julaekah, Achirudin Bayu C. Semoga kita semua tetap berada di jalan pelestarian kebudayaan pesisir yang telah menghidupi kita sampai hari ini, agar nilai-nilai luhur ini tak pernah padam ditelan zaman.

Semoga buku ini tidak hanya menjadi dokumen, tetapi menjadi pemantik bagi siapa pun, dimana pun, untuk mulai mendengarkan kembali bisikan air dan kearifan nenek moyang di sekeliling mereka.

Salam lestari,

Angga Hermansah - Penulis buku Pranata Banyu Desa Dasun, terbit 2026, ISBN: 978-623-138-210-8

Beri Komentar

Layanan
Mandiri

Hubungi Pemerintah Desa untuk mendapatkan PIN

Pemerintah Desa

Kepala Desa

SUJARWO

PEMDES DASUN

EXSAN ALI SETYONUGROHO, S.Pd

PEMDES DASUN

SUYOTO

PEMDES DASUN

AHMAD MAULANA, S.Ag

PEMDES DASUN

ONY VENA MULYANA

PEMDES DASUN

ACHIRUDIN BAYU CHRISTIYANTO, S.Pd

PEMDES DASUN

JULAEKAH, SE

PEMDES DASUN
Statistik Pengunjung
Hari ini : 565
Kemarin : 407
Total Pengunjung : 1.191.700
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.216.230
Browser : Mozilla 5.0
Statistik Pengunjung
Hari ini : 565
Kemarin : 407
Total Pengunjung : 1.191.700
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.216.230
Browser : Mozilla 5.0

Kabar Rembang

Pemerintah Desa

SUJARWO

Kepala Desa


PEMDES DASUN

EXSAN ALI SETYONUGROHO, S.Pd


PEMDES DASUN

SUYOTO


PEMDES DASUN

AHMAD MAULANA, S.Ag


PEMDES DASUN

ONY VENA MULYANA


PEMDES DASUN

ACHIRUDIN BAYU CHRISTIYANTO, S.Pd


PEMDES DASUN

JULAEKAH, SE


PEMDES DASUN