Di Belitung, Herman Efendi membantu mengelola sebuah rumah makan bernama Resto Vega yang berlokasi di Manggar, Belitung Timur. Ia menceritakan pengalaman adaptasinya yang sempat mengalami culture shock, terutama dalam hal bahasa dan kebiasaan masyarakat setempat. Bahasa Melayu Belitung yang digunakan di sana mirip dengan bahasa yang dikenal dari serial Upin & Ipin, meskipun ada perbedaan pengucapan. Ia juga menyebutkan bahwa makanan di Belitung tidak jauh berbeda dengan di Jawa, dengan hidangan khas seperti "gangan" yang rasanya agak manis, berbeda dengan "merico" di daerah Lasem.
Herman Efendi menggambarkan suasana di Belitung Timur sebagai tempat yang tentram, aman dengan tingkat kriminalitas rendah, dan masyarakat yang sangat ramah. Budaya ngopi di warung kopi sangat kental dan menjadi media komunikasi utama, mirip dengan kebiasaan di Lasem namun lebih ekstrem, di mana semua kalangan dari muda hingga tua berkumpul di warung kopi.
Selain itu, Herman Efendi menyampaikan kekagumannya terhadap alam dan suasana Belitung yang membuatnya langsung jatuh cinta pada tempat ini. Ia belum berencana kembali ke Dasun dan memilih menjalani kehidupan di Belitung, karena menurutnya rezeki bisa didapat di mana saja.
Video juga menyebutkan bahwa ada rombongan dari Desa Dasun yang berkunjung ke Belitung Timur untuk menerima penghargaan dari Kementerian Kebudayaan, yang membuat Herman Efendi merasa bangga dan terinspirasi. Bagi warga Dasun yang ingin berkunjung ke Belitung, Mas Herman membuka kesempatan untuk diantar dan berkunjung ke rumah makan serta tempat pemancingan di Manggar.
Secara keseluruhan, video ini mengangkat kisah perpindahan dan adaptasi seorang warga Rembang di Belitung, serta menyoroti keindahan budaya dan keramahan masyarakat Belitung Timur yang membuatnya betah tinggal di sana.