Desa Dasun

Kec. Lasem, Kab. Rembang
Prov. Jawa Tengah

Loading

Info
Laman Resmi Pemerintah Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Sekretariat: Balai Desa Dasun, RT.01,RW.01, Dasun, Lasem, Kode Pos: 59271 | Dasun Maju | Desa Pemajuan Kebudayaan Kemendibud | Desa Anti Korupsi KPK RI

Berita Desa

Masyarakat Brunei-Nusa Tenggara Selatan yang tinggal di sepanjang pantai Teluk Sampit dan di tepi kiri kanan Bengawan Sampit-hilir, pernah dilanda wabah besar. Konon masyarakat Sampit disiksa oleh Blarutan Setan. hingga banyak orang yang meninggal, terutama anak kecil yang masih kecil. Orang-orang yang masih hidup sangat sedih, sehingga mereka berlindung dan berlayar ke selatan melintasi lautan Brunei; menuju Nusa Kendheng. Setan Blarutan tidak berani menyeberangi lautan mengikuti para pengungsi, mengatakan dia takut pada Bathhari Hwa Ruh Na, raja Jim-Samodra.

Kemudian masyarakat Nusa Kendheng dipimpin oleh Kie Seng Dhang, seorang kakek tua asal Sampit yang galak dan banyak pengalamannya. Setelah berlayar selama sepuluh hari sepuluh malam, pada saat bang- bang-wetan terlihat rangkaian pegunungan Nusa Kendheng (sekarang Gunung Ngargapura Lasem); Pesisir Ngargapura dapat dilihat sebagai pemandangan (pemandangan, sekarang desa Pandhangan) yang menarik perhatian orang. Terlihat puncak Gunung Ngargapura, langit cerah dan biru cerah; Gelombang gempa menghantam pantai Ngargapura.

Ya, di sanalah orang Sampit pertama kali mendarat menjadi bangsa baru yang disebut orang Jawa.

Selang beberapa saat (kaum wanita Sampit suka pergi memanen buah jambe yang masih muda, disebut Mucang), perahu sudah sampai di pantai (palwa-palwa = palwangan. Plawangan, sekarang kampung Plawangan), para penghulu membuang ndokok makanannya (menaruk-naruk, sekarang desa Narukan) perahu-perahu berjejer di sepanjang pantai menuju ke selatan. Nenek-neneklah yang pertama kali turun dari perahu dengan membuang tepes-jambenya ke laut, sebagai cara membuang kekayaannya dari negerinya. Nyi Seng Dhang membuka ikatan ambingnya dan mengambil tanah dari tanah Sampit, menyebarkannya di tepi bumi Ngarga Kendheng; lalu dia membungkuk ke arah Pretiwi dan menatap Angkasa. Ibu-ibu lainnya ikut berdoa bersama sambil memuji: “Semoga semua yang merantau mendapatkan Kabekjan dan Karahayon untuk hidup di bumi, dan berbuah banyak generasi untuk menjadi bangsa baru di Nusa Kendheng.”

Orang-orang itu kemudian naik ke atas tanah ke tempat tinggal mereka di Tuk, dengan bimbingan dan dorongan kakek mereka Kie Seng Dhang, yang selama ini berpegangan tangan dengan cucunya Putri- kinasih yang berusia 12 tahun; dia memiliki wajah yang cantik dan pergi mencari teman kencan, namanya Nie Rah Kie.

Kakek Kie Seng Dhang berjalan-jalan di hutan belukar, setelah menemukan tempat yang cocok dan menghubungkannya, dia memerintahkan semua kerabatnya untuk membersihkan semak-semak dan menebang pohon agar mereka datang. Putri Nie Rah Kie melihat bunga putih di matanya, dan beberapa di antaranya masih mekar. Sang putri sangat terkesan dan memberi tahu neneknya. "Besok, ketika kamu punya rumah dan ingin menanam bunga putih, itu sangat menarik." Bunga itu diberi nama Bunga Melathi oleh sang Putri

Selama kurang lebih empat bulan, hutan menjadi tempat tinggal dan pekarangan; saat akhir musim Labuh waktunya buang, ulat jati jadi angker, buah dipanen, hujan masih banyak yang pecah; membuat orang senang dan merasa tidak kekurangan makanan.

Untuk memperingati asal usul Kie Seng Dhang dari desa Tanjung-matalayur di Teluk Sampit di pantai selatan Nusa Brunei, tempat tinggal Kie Seng Dhang disebut desa Tanjungputri (sekarang desa Tanjungsari, Kecamatan Pandhangan/ Kragan Kabupaten Rembang).

Setelah mereka menjadi karas-pekaganan dan pomahan, suatu hari mereka berkumpul di Balepaguyuban Tanjungputri, untuk membicarakan penataan dan pemeliharaan desa di bawah bimbingan kakek Kie Seng Dhang. Giliging untuk membuat keputusan:

  1. Mengangkat Kie Seng Dhang menjadi Sesepuh dan Dhatu Tanjungputri seumur hidupnya, menguasai tanah Pegunungan dan Pantai Ngargapura, dari Pandhangan sampai Teluk Lodhan yang pantainya berbentuk Wedhi-malela. Teluk ini dikelilingi hutan pohon Pung, dengan tiga pohon Pung besar di sisi timur (=Sam, sekarang kampung Sampung).
  2. Tanah Nusa-Kendheng berganti nama menjadi Tanah Jawi, diambil dari nama Bantheng-wadon (nama: Jawi) yang dipuja oleh masyarakat Lingga.
  3. Kami tidak lagi menyebut diri kami orang Sampit, kami mengubah nama kami; Orang Jawa, Nulad memiliki karakter wanita banteng yang sangat Jawa (=datang, tahu, peduli) pada betisnya. (Tanahnya disebut: Tanah Jawi, orangnya disebut: orang Jawa).
  4. Mereka kemudian menandai Tahun, ketika mereka menjadi Jawa, disebut (Tahun Hidup Jawa: 1 = 230 tahun sebelum Masehi); dan terbuat dari batu Simbol-Reca sebesar manusia, peta Kie Seng Dhang terletak di Pongol sebelah Gunung Tunggul. Para sesepuh diharuskan memakai kalung dengan rambut ditampar, dan diberi mendel/gandhul yang terbuat dari Watu-jae willis sebesar manisan kecil; oleh Kie Seng Dang.

Mereka adalah Prasetya-Suci

  1. Orang Jawa dari generasi ke generasi terus mengikuti Kepercayaan Suci Hwuning, naluri nenek moyang Nusa Brunei Chaow (=mengingat=mengembara) dari Nusa-Hainan; Jamajuja 3000 tahun yang lalu (1000 tahun sebelum kelahiran Nabi Isa el Masih). Guru besar benua Masriki juga tidak lahir di dunia, yaitu: Lao Tze Tao, 2. Hud Tze Buddha, 3. Kong Tze Khonghucu. Sedangkan suku Chaow pertama berasal dari Tiongkok, tepian sungai Yang Tze Kiang dikelilingi Pegunungan Kwen Lun dan Pegunungan Tang La, Provinsi Ching Wai. Mereka menyebar ke selatan di tanah Cina Selatan (Bila 4000 tahun yang lalu = 2000 tahun sebelum Masehi), melewati Pegunungan Yun Lin. Melalui Provinsi Yunan, Provinsi Kwang Sie, Provinsi Kwang Tung. Kemudian dia menyeberangi laut ke daratan Nusa-Heinan, lalu dia menyeberang ke Nusa-Bruney; menyebar menjadi suku Dhayak baru dengan nama yang berbeda-beda sesuai dengan nama Bengawan disana (Barito: Maanyan- siung. Kayan: Apokayan, Kenya. Segah: Segal. Maham. Punan. Sampit). Setelah menjadi Dhayak Sampit, ia kembali merantau menyeberangi lautan menuju Nusa-Kendheng, berganti nama lagi: Bangsa Jawa.
  2. Ke depan, orang Jawa di negara manapun akan selalu merayakan kejawaannya, dan mengembangkan budaya Jawa.
  3. Orang Jawa yang meninggalkan Jawa akan menjadi orang Jawa yang tidak memiliki Dhangkel dan Yood-lajer. Hidupnya selalu Nglindur dan Mbangkong sampai-sampai mengembara, mengejar keindahan Jodhog-layung di senja Sandyakala.

Kakek Kie Seng Dhang bertugas di Banjar (=kampung besar) Tanjungputri selama 30 tahun, di usia 90 tahun mulai merasa lelah dan enggan; Pemerintahan diserahkan kepada Putri Nie Rah Kie yang diwakili oleh istrinya: Bandhol Hang Lhe Lesy, kepala pelaut Pandhangan di selatan. Ketika Putri Nie Rah Kie memegang kekuasaan Banjar Tanjungputri, bandhol Hang Lhe Lesy membuat peraturan pemerintah: Putri Nie Rah Kie harus dikurung di dalam pekarangan istana, tidak boleh ada laki-laki yang menyentuh tubuh (wajah dan tubuh) sang putri. Putri; kecuali istri dan anak-anaknya dan Nanny. Peraturan pemerintah diperintahkan dari Kaputren Keraton Tanjungputri Kraga (=neker raga=kerraga=keraga; sekarang Kragan) melalui Emban- keparak; kemudian dilanjutkan ke Nayakapraja-priya. Setelah kematian Kie Seng Dhang, jenazahnya dikremasi, abunya dimakamkan di dekat Tuk/mata air dan batu penanda mecongol ditempatkan di bawah perlindungan pohon Wringin-Brahmastana. Sebagai Leluhur (=Dhanhyang) yang merupakan masa depan desa tersebut, nama Kie Seng Dhang diberikan kepada keturunan dan rakyatnya; dia adalah Dhanhyang Pundhen dengan memperingati kata "Tuk" di semua desa diganti dengan kata Sendhang. Ngapek dari kata Seng Dhang (yaitu: Sendangmulya, Sendangwaru, Sendanggayam, dan lain-lain).

Reliqe (200 tahun sebelum Masehi) diawetkan dan dikuburkan. Ketika masyarakat Tanjungputri meninggal, jenazahnya dikremasi di tepi pantai Pandhangan, dan abunya dibiarkan dikubur di laut. Nama surgawi Putri Nie Rah Kie dibawa oleh pematung berupa patung emas dan ditempatkan di pura gunung Tunggul.

Pemerintahan Kraga Tanjungputri berdiri hingga banyak keturunannya, setiap kali ada pergantian pemimpin selalu memilih Putri yang bernama Witjaksana, keturunan dari Putri Nie Rah Kie; dan juga berolahraga di Taman Istana Tanjungputri. Masyarakat Jawa Kraga hidup berbahagia, karena memiliki sandang pangan dan papan yang berkecukupan, serta tetap memuliakan Tanam Paksa Hwuning Jawa.

Ketika orang Sampit merantau ke tanah Nusa Kendheng Ngargapura, ikan Pesut (=ikan Lodhan Bengawan Sampit yang lolos bersama Menusa) banyak yang ikut migrasi; terletak di Laut Teluk tenggara Gunung Ngargapura, yang menjadi Teluk kemudian menjadi Teluk Lodhan. Saat itu, pantai Teluk Lodhan sepi dan tidak berpenghuni; penghuni Teluk hanyalah burung-burung di laut dan burung-burung di hutan; serta penyu dan penyu yang ingin bertelur. Terkadang ada Jawi (=banteng betina) di hutan, dengan betisnya di sisi pohon untuk menghangatkan badan; Orang Jawa dan ikan Lodhan adalah orang yang sama yang bisa hidup rukun di pantai itu. Babon ikan lodhan, jika ingin keluar setiap hari, dorong rumput laut yang tumbuh di teluk Teluk untuk dibesarkan di tepi pantai; nasi yang jatuh di sana dimakan oleh Jawi yang sedang menyusui anaknya, membuatnya sesekali merasa segar dari susu. Saat babun Pesut merasa ingin melahirkan, dia berenang dan mengapung, Duplonge (=bayi Pesut) lahir, bernapas dengan berat dan menghisap udara ke perut induknya; Setelah bisa berenang, Duplong dengan mudah naik ke bibir pantai tanpa tertangkap ikan. duplong itu akan membangunkanmu. Ketika dia mencium bau susu Jawa, dia mendatangi babun Jawa yang sedang berlarian dan dengan penuh semangat menghisap susu tersebut. Babon Jawa tidak terkejut dan menjilat Dhuplong yang masih minum air; begitu anak lembu jawi mandar kabur dan memekik karena bau ari-ari duplong, lalu dia pergi ke Sangu untuk menghentikan kematian anak muda itu. Ketika Dhuplong sudah puas menyusu, ia mendatangi ibunya yang masih tinggal di lautan.

Pesut yang merantau bersama pindah tinggal di Telok Lodhan selama 130 tahun. Dengan adanya masyarakat Kraga Tanjungputri yang sedang melaut, pesut pesut masih berani mendekat dan melepaskan.

Kalau orang Jawa Kraga tidak mau ke Teluk Lodhan tempat Pesut dan Bantheng hidup rukun, buat apa repot-repot atau membunuh dua binatang itu; Orang Jawa sangat iri dan takut pada nenek moyang Dhanhyang: "Anak Kraga tidak boleh membiarkan orang Pesut dan Jawa itu mengancam, apalagi membunuh mereka." Orang Jawa yang merupakan keturunan orang Sampit juga tersebar di seluruh pegunungan Ngargapura selama 130 tahun terakhir, dihuni oleh gerombolan sagotrah. Saat itu orang Jawa sudah menggembalakan domba yang didapat dari anak domba, diberi makan dan diikat di tiang ranjang, dikumpulkan bersama dengan menusa. Saat anak domba siap melahirkan, anak domba disimpan di kandang, dikelilingi oleh domba, dan diberi makan. dijaga siang dan malam oleh anjing-anjing yang telah dijinakkan dan digembalakan. Masyarakat Pomahan memiliki ide makan domba seperti itu, perlu jika ada kebutuhan untuk memasak daging untuk lauk, tidak harus menunggu hewan di hutan terlebih dahulu. Anjing-anjing yang telah hidup bersama manusia selama ribuan tahun, menjaga rumah, menjaga rumangangk dan melakukan hal lain, hanya diperbolehkan tidur di pekarangan atau di beranda.

Orang jawa dan ikan lodhan (pesut-pesut) sudah 130 tahun tinggal di ngargapura (tahun jawa sudah 130

= tahun masehi belum ada), waktu itu seorang pendatang pindah dari nusa tempabesi mendarat di tanah jawa pongol lodhan laut, bebadra bubak bumi Pung cikalbakal membuat desa di sepanjang pantai Teluk Lodhan; desa itu bernama desa Sampung. Banyak orang yang tahu cara membuat perahu besar, bagian bawah perahu berlubang dan perahu terbuat dari kayu kuat yang menyerap air asing Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Tuban). Selain itu, mereka juga pandai dalam berbagai hal; menjadi Undhagi tukang kayu, Pande tukang besi, Gemblak tukang kuningan, Sayang tukang tembaga, Kundhi tukang tembikar dan Jlagra tukang batu dari rumah; karya mereka disebut budaya Sampung.

Untuk memperluas tempat tinggal mereka, mereka bertekad untuk mencapai hutan dan berjalan di tanah Teluk Lodhan. Masyarakat Nusa Tempabesi percaya/beragama bahwa mereka menyembah Dewa Matahari/Api, Dewa Laut/Air, Dewa Angkasa/Angin, Dewa Bumi/Naga Hijau. Mereka tidak iri makan daging Banteng dan ikan Pesut; berjalan di tanah Lodhan, si mandar merasa lebih beruntung karena bisa berburu

dan menangkap ikan dengan sekuat tenaga. Hal ini membuat hewan yang dulunya hidup damai berubah menjadi hewan pemalas dan pemalas; mereka semua lari dan berhamburan. Pesut dan Banteng pergi dan menyebar ke selatan melintasi lautan menuju tanah Nusa Kendheng Kidul yang hutannya masih banyak hutan belantara yang belum terjamah; Lautnya yang dangkal dan banyak terdapat ikan-ikan kecil dengan berbagai warna membuat pesut-pesut mudah mendapatkan makanan. Kawanan Banteng lainnya terus mengembara ke selatan melintasi laut Supitan-Kamput, kemudian berlanjut hingga ke hutan Pegunungan Brahma-Mahameru di dekat ujung hutan Pegunungan Raung (Saurute Bengawan Brantas pada masa Jama- Jamajuja masih merupakan selat laut yang mengitari Gunung Kawi, Kaput, Ajar-smara, dan Penangungan.

Desa Sampung setelah berdiri selama 75 tahun mengalami kemakmuran, masyarakatnya pindah rumah ke pantai, perahunya berjejer di ujung Teluk Lodhan. Selama 75 tahun terakhir, masyarakat Sampung banyak menjalin hubungan dengan masyarakat Kraga-Tanjungputri, dan sudah banyak masyarakat yang berbaur satu sama lain. Usaha masyarakat Sampung ditiru oleh masyarakat Kraga. Di sisi lain, Kesaktian dan Budaya Jawa Kraga-Tanjungputri ditiru oleh masyarakat Sampung, karena biaya Upacara lebih ringan dan elegan; ilmunya lebih blagblagan Sejatinya sederhana. Berbeda dengan kepercayaan agama masyarakat Sampung yang brilian dan absurd, ilmunya rumit dan puisinya panjang dan membosankan. Ada banyak biaya upacara, itu terlalu banyak. Hal ini membuat masyarakat Sampung bosan, dan pada akhirnya dengan senang hati beralih ke kepercayaan suci Hwuning yang selaras dengan budaya Jawa Tanjungputri Kraga; Mandar kemudian mengaku sebagai orang Sampung-Tempabesi lagi, lagi-lagi mengaku sebagai orang Jawa-Sampung.

Pada tahun Jawa Hwuning 205, banyak orang Jawa-Sampung kembali berpisah, mereka terpencar ke tenggara membutuhkan tempat yang lebih subur di tanah Nusa Mahameru; dengan melintasi Laut Kamput yang luas dari Teluk-Popoh ke utara; bagian pertama Segara-supitan menjadi rawa bening dan rawa Gesikan berlanjut ke utara melalui Tulungagung, Kedhiri dan Kertasana; lanjutkan ke Megaluh (Jombang) dan lihat ke timur melintasi Plosso dan lanjutkan ke Teluk-Tarik menuju laut Medunten. Tanah Nusa Mahameru di dekat ujung Pegunungan Raung berganti nama menjadi Nusa Jawa-Pegon, orangnya disebut juga orang Jawa-Pegon.

Pada tahun Jawa-Hwuning 205, masyarakat Jawa Kraga setelah Tujuh Keturunan (Putra, Cucu, Cicit, Cangah, Wareng, Udheg-udh, Gantung, Siwur) dimulai dari Putri Nie Rah Kie, sejumlah itu jiwa orang menjadi sangat besar; rumah Pandangan dan Narukan sudah penuh. Karena itulah mereka berpisah dan bermukim di tanah pegunungan di belakang Pegunungan Ngargapura yang tanahnya sangat subur dan pohon-pohon bambu di sekitar mereka sangat subur. Ada banyak ikan di air yang mengalir di antara bebatuan, dan ikan-ikan itu berenang di bebatuan.

Dengan cara yang sama, masyarakat Putri Nie Rah Kie dari pesisir Trah-theda juga terlibat dalam perjalanan dengan perahu; sejak ia tinggal di tanah Belahan, ia mulai bekerja di tanah pegunungan, ia memilih tempat yang menghadap ke laut, yaitu di lereng Gunung Ngargapurasing di sebelah utara (Kecamatan Sluke) yang menghadap ke dalam dan pegunungan terjal; desa yang disukai: Terahan (Trah = putri dari putri Nie Rah Kie). Tanah yang berbentuk pantai dengan teluk untuk tempat singgah kapal-kapal asing yang singgah untuk mengambil air minum, kemudian dikenal dengan desa Pangkalan.

Para wanita Terahan dan Pangkalan terkenal manis dan cantik, dan mereka masih melanjutkan naluri adat nenek moyang mereka di Tanjungputri; para wanita itu suka menanam bunga Melathi untuk menyemangati tubuh mereka ketika menghadiri festival, yaitu memakai sisir Melathi untuk dilingkarkan, di sebelah Melathi-ronyok, kalung yang terbuat dari bunga Kanthil; dan setiap hari, setiap selesai membersihkan badannya, dia selalu memegang bunga Melathi. Bagi masyarakat Priya, Omcen-oncen Surengpati dilempar ke dalam Keris. Jika Anda pergi ke hari suci untuk mengunjungi makam Sembok- Semak, serta nenek moyang Nyai Dhanhyang/Kaki Dhanhyang yang merupakan pemimpin desa; itu dihormati sebagai obat dan karangan bunga Melathi dan dupa yang harum.

Sampai saat ini Wanita Wirya Wicaksana yang merasa masih keturunan Tanjungputri meski tinggal di negara yang berbeda, meski masing-masing tetap harus menanam bunga Melathi; atau hiasi diri Anda dengan bunga yang menyenangkan hati. Minagka penuh dengan memuliakan pangkat, dan mengenang nama Putri Leluhurnya, yaitu Putri Nie Rah Kie, Dattsu Dewi Sibah, dan Maharani Bre Lasem I Dewi Indu Purnamawulan; dan Putri-puri Kriyan, anak dari Eyang Mpu Guru Pr. Santibhadra. (Putri Swargi Cempa Bie Nang Tie dan putri Malokhah juga tertarik mengenakan bunga Melathi). Juga Raden Adjeng Kartini.

####

Tulisan di atas adalah bagian dari Buku Sejarah Kawitane Wong Jowo Lan Wong Kanung karya Mbah Guru (Takrip Hadidarsana) yang sudah dialihbahasakan secara sederhana dan terbatas.

 

Beri Komentar

Layanan
Mandiri

Hubungi Pemerintah Desa untuk mendapatkan PIN

Pemerintah Desa

Kepala Desa

SUJARWO

PEMDES DASUN

EXSAN ALI SETYONUGROHO, S.Pd

PEMDES DASUN

SUYOTO

PEMDES DASUN

AHMAD MAULANA, S.Ag

PEMDES DASUN

ONY VENA MULYANA

PEMDES DASUN

ACHIRUDIN BAYU CHRISTIYANTO, S.Pd

PEMDES DASUN

JULAEKAH, SE

PEMDES DASUN
Statistik Pengunjung
Hari ini : 137
Kemarin : 213
Total Pengunjung : 1.158.391
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.217.134
Browser : Mozilla 5.0
Statistik Pengunjung
Hari ini : 137
Kemarin : 213
Total Pengunjung : 1.158.391
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.217.134
Browser : Mozilla 5.0

Kabar Rembang

Pemerintah Desa

SUJARWO

Kepala Desa


PEMDES DASUN

EXSAN ALI SETYONUGROHO, S.Pd


PEMDES DASUN

SUYOTO


PEMDES DASUN

AHMAD MAULANA, S.Ag


PEMDES DASUN

ONY VENA MULYANA


PEMDES DASUN

ACHIRUDIN BAYU CHRISTIYANTO, S.Pd


PEMDES DASUN

JULAEKAH, SE


PEMDES DASUN